Sabtu, 26 Februari 2011

PERBEDAAN KARANGAN Perbedaan Karangan Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non Ilmiah

PERBEDAAN KARANGAN
Perbedaan Karangan Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non Ilmiah


I.       LATAR BELAKANG
Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa dan merupakan suatu kegiatan yang mempunyai hubungan dengan proses berpikir serta keterampilan ekspresi dalam bentuk tulisan walaupun menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa, tetapi dalam proses pembelajaran bahasa tidak mungkin dipisahkan dengan keterampilan berbahasa yang lain seperti mendengarkan, berbicara dan membaca.
Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang terpadu, yang ditujukan untuk menghasilkan sesuatu yang disebut tulisan. Dalam pembahasan ini, saya akan mengangkat topik mengenai karangan dan untuk mengetahui lebih jauh mengenai karangan disini ada beberapa jenis-jenis karangan dan juga pengertiannya.
Mengarang adalah pekerjaan merangkai kata, kalimat, dan paragraf (alenia) untuk menjabarkan dan atau mengulas topik dan tema tertentu guna memperoleh hasil akhir berupa karangan. Karangan adalah hasil penjabaran suatu gagasan secara resmi dan teratur tentang suatu topik atau pokok bahasan.
Karangan terbagi menjadi 2 macam yaitu karangan berdasarkan penyajiannya dan karangan berdasarkan jenisnya.
Karangan berdasarkan penyajiannya ;
1.      Karangan narasi
2.      Karangan argumentasi
3.      Karangan eksposisi
4.      Karangan persuasi
Karangan berdasarkan jenisnya :
1.      Karangan Ilmiah
2.      Karangan Semi Ilmiah
3.      Karangan Non Ilmiah


Permasalahan
Apakah perbedaan karangan dari ilmiah, semi ilmiah, dan non ilmiah ?


II.    PEMBAHASAN
Karangan merupakan suatu kegiatan menulis usulan-usulan yang benar berupa suatu pernyataan-pernyataan berupa fakta, kesimpulan-kesimpulan yang diambil dari sebuah fakta, dan juga merupakan suatu pengetahuan. Ada 2 macam karangan yaitu karangan berdasarkan penyajian dan karangan berdasarkan jenisnya.
A.  Karangan berdasarkan penyajiannya :
1.       Karangan narasi
2.       Karangan argumentasi
3.       Karangan eksposisi
4.       Karangan persuasi
B.   Karangan berdasarkan jenisnya :
1.      Karangan ilmiah
2.      Karangan semi ilmiah
3.      Karangan non ilmiah

A.    Karangan berdasarkan penyajiannya :
1.      Karangan Narasi
Menceritakan suatu peristiwa /kejadian, ada tokoh alur dan suasana.
Contoh : Cinta tahu bahwa Agung membutuhkan pertolongan seseorang. Andre masih menimbang-nimbang haruskah aku menolongnya? Bagaimana dengan Ibunya? Masih mengiang-ngiang ditelinganya saat Bu Ardan (Ibu Agung) melarang dan mengusirnya supaya tidak bermain lagi dengan anaknya, Agung.Untunglah, keluarga Andre segera pindah rumah.

2.      Karangan argumentasi
Pendapat atau ide untuk membuktikan kebenaran, adanya kesimpulan.
Contoh : memelihara ayam itu sangat mudah bukti bahwa memelihara ayam itu mudah dapat dilihar dengan menjamurnya peternakan ayam dibeberapa daerah banyak orang yang berhasil dalam beternak ayam. Memelihara ayam tidak banyak gangguan berarti. Adapun munculnya beberapa penyakit atau gangguan kecil lainnya, anggaplah sebagai variasi untuk usaha peternakan ayam ke arah yang lebih maju.

3.      Karangan eksposisi
Memaparkan atau merinci informasi data dan fakta diakhir paragraf penegasan
Contoh : kebutuhan benih padi bersertifikat label biru secara nasional makin tahun makin meningkat. Benih padi bersertifikat label biru yang mempunyai daya saing yang tinggi terhadap jenis benih lain. Panen padi sebagai hasil dan benih padi bersertifikat label biru itu meningkat sampai 9,57% dari pada benih yang tidak bersertifikat label biru.

4.      Karangan persuasi
Mengajak dan mempengaruhi pembaca.
Contoh : disiplin adalah salah satu faktor penunjang yang paling pokok dalam mencapai keteraturan hidup. Buatlah jadwal kegiatan setiap harinya. Taatilah semua jadwal yang telah disusun. Kita ambil contoh misalnya, bangun tidur pukul berapa, berangkat sekolah pukul berapa, tidur siang pukul berapa, dan jangan lupa waktu main pun harus ada. Kita memang perlu rileks sekedar mengurangi stress.

B.    Karangan berdasarkanjenisnya :
a.      Karangan Ilmiah
Karya Ilmiah merupakan suatu karangan ilmu pengetahuan yangg membuat fakta umum yang ditulis sesuai metodologi dan penulisan yang benar sesuai kaidah yang ada.
Ciri-ciri karangan ilmiah diantaranya :
~ Sistematis.
~ Objektif.
~ Cermat, tepat dan benar.
~ Tidak persuasif.
~ Tidak argumentatif.
~ Tidak emotif.
~ Tidak mengejar keuntungan sendiri.
~ Tidak melebih lebihkan sesuatu.
Contoh dari karangan ilmiah seperti makalah, usulan penelitian atau proposal.

Adapun jenis karangan ilmiah yaitu:
a.      Makalah
Karya tulis yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif (menurut bahasa, makalah berasal dari bahasa Arab yang berarti karangan).
b.      Kertas kerja
Makalah yang memiliki tingkat analisis lebih serius, biasanya disajikan dalam lokakarya.
c.      Skripsi
Karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasar  pendapat orang lain.
d.      Tesis
Karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam daripada skripsi.
e.      Disertasi
Karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasar data dan fakta yang sahih dengan analisi yang terinci.


b.      Karangan semi ilmiah
Karangan semi ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan di tulis sesuai metodologi penulisan yg benar. Ciri-ciri karangan ini diantaranya :
~ Ditulis berdasarkan fakta pribadi.
~ Fakta yang di simpulkan subyektif.
~ Gaya bahasa formal dan populer.
~ Mementingkan diri penulis.
~ Melebih lebihkan sesuatu.
~ Usulan bersifat argumentatif.
~ Bersifat persuasif.
Contoh dari karangan semi ilmiah diantaranya adalah artikel, editorial, opini, tips dan juga resensi buku.


c.      Karangan non ilmiah
Karangan non ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengamatan dalam kehidupan sehari hari. Ciri-cirinya antara lain :
~ Ditulis berdasarkan fakta pribadi.
~ Fakta yg disimpulkan bersifat subyektif.
~ Gaya bahasa konotatif da populer.
~ Tidak memuat hipotesis.
~ Penyajian dibarengi dengan sejarah.
~ Bersifat imajinatif.
~ Situasi di dramatisir.
~ Bersifat persuasif.
Contoh karangan non ilmiah diantaranya : dongeng, cerpen, novel, drama, dan roman.

Berikut contoh-contoh dari wancana ilmiah, semi ilmiah dan non  ilmiah :
Contoh wacana ilmiah :
Menyusun sebuah kamus yang benar-benar lengkap sehingga dapat disebut sebagai kamus lengkap memang sangat berat. Selain dibutuhkan pikiran, tenaga, waktu, serta biaya yang hampir-hampir tidak dapat dibatasi, ada hal lain yang menjadi syarat kelengkapan itu.

Contoh wacana semi ilmiah :
Yaman di Titik Kritis
Pemerintah Yaman, kini, paling kurang menghadapi dua persoalan besar. Pertama, menghadapi kelompok Houthis yang sejak beberapa tahun terakhir mengangkat senjata menentang pemerintah pusat Sana’a. Kedua, menghadapi Al Qaeda yang telah membangun kekuatan di wilayah negara yang terletak di ujung selatan, Jazirah Arab, ini.
Hal itu menegaskan pandangan yang sudah beredar selama beberapa tahun belakangan bahwa Yaman telah menjadi semacam safe haven, tempat berlindung yang aman, bagi kelompok-kelompok yang memiliki hubungan dengan Al Qaeda.
Rencana peledakan itu telah mengungkapkan secara lebih rinci tentang kelompok tersebut. Kelompok ini telah membuat pemerintah Sana’a harus berjuang keras untuk mengatasinya, sementara AS sudah menyatakan tidak akan mengirim pasukan ke Yaman membantu pemerintah pimpinan Presiden Ali Abdullah Saleh.
Pemerintah Sana’a, yang sebenarnya kekurangan sumber daya untuk mengatasi kelompok Al Qaeda, pun harus hati-hati untuk meminta bantuan kepada AS. Jangan-jangan keputusan untuk membuka pintu bagi pasukan asing justru akan menjadi senjata bagi kelompok oposisi untuk meningkatkan perlawanan mereka kepada pemerintah.
Sementara itu, kelompok Houthis muncul sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang dianggap banyak melakukan penyelewengan: korupsi, memburuknya kondisi sosial masyarakat, sangat bergantung pada Arab Saudi dan AS, menekan kelompok Zaydi, Shiah, yang mendapat dukungan Iran. Kelompok ini sebenarnya sudah mengangkat senjata sejak tahun 1960-an.
Secara umum, sebenarnya gerakan bersenjata kelompok Houthis ini lebih merupakan reaksi terhadap pemerintah yang dianggap tidak berfungsi maksimal ketimbang gerakan yang bernuansa ideologis.
Akan tetapi, apa pun, gerakan mereka merepotkan pemerintah pusat. Tidak hanya itu. Gerakan bersenjata di perbatasan utara Yaman ini juga merepotkan Pemerintah Arab Saudi, yang memang berbatasan dengan Yaman. Tidak jarang, pasukan Arab Saudi terlibat kontak senjata dengan kelompok Houthis di sepanjang perbatasan.
Dua persoalan tersebut telah menempatkan pemerintah Sana’a pada posisi yang sulit. Negeri yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban di Timur Tengah itu kini di ambang kehancuran jika tidak mampu menanganinya. Bisa jadi, Yaman akan tergelincir seperti Somalia, yang bisa dikategorikan sebagai ”negara gagal” dan dikuasai oleh kelompok-kelompok bersenjata.
Ini tantangan besar yang harus diatasi oleh pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh.

Contoh wacana non ilmiah :
Aku merasa rendah diri. Aku merasa tak punya kemampuan apapun dari segala bidang. Apa yang bisa kulakukan? Aku seperti orang tak berguna. Mungkin… telah lama aku kehilangan rasa percaya diriku, dan aku tak menyadarinya. Bagaimana caraku untuk mendapatkan rasa percaya diriku kembali? Sebenarnya aku trauma dengan apa? Aku takut dengan apa? Oh! Aku bingung! Astaghfirullah…Aku seperti menangis sendiri kesepian di dalam tiap senyumku. Oh… aku benar-benar merasa bagai orang tak berguna! Aku masih belum bisa mengatasi perasaan minderku sendiri. Bagaimana ini ya Allah? Sampai di usiaku yang telah menginjak 16 tahun ini aku masih bingung. Apa keistimewaanku? Aku hanyalah seorang perempuan yang rapuh… dan tak punya keistimewaan apapun. Astaghfirullahal’adzim… Astaghfirullah… Astaghfirullah… Kemanakah semangatku yang membara itu pergi?
Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Aku masih punya banyak kekurangan. Tapi… aku sangat bangga menjadi orang Islam. Menjadi seorang muslimah… apakah itu dapat disebut sebagai kelebihan?I don’t know !
***
Seperti pada hari-hari sebelumnya, matahari terbit menyinari bumi. Alhamdulillah. Waktu terus berputar tanpa menghiraukan orang-orang sekitar. Tak terasa waktu pulang sekolah telah diambang pintu.
Kembali aku tersenyum kepada dunia yang telah 16 tahun ‘membesarkanku’. Tak seperti biasanya, hari ini sepulang sekolah aku makan soto di warung. Ditraktir. Berlanjut ke jalan-jalan menyusuri jalanan kota dengan naik bus.
Bersama ke-6 kawanku, kami menjejakkan kaki ke swalayan ternama di kota kami. Minum es teh bareng (satu cup es teh buat rame-rame), makan donat unil bareng, makan rujak bareng. Wah! Subhanallah… memang sangat nikmat ya bila kita berbagi. Apalagi menghabiskan waktu bersama dengan yeman-teman, benar-benar terasa seru dan asyik!
Sepulangku dari swalayan ternama tersebut, aku turun di Krapyak setelah naik bus jurusan Mangkang. Kemudian menanti bus jurusan Pasadena. Oh! So long! Tiba-tiba tanpa kusadari, muncul seorang nenek yang berjalan dengan tertatih-tatih. Nenek tersebut membawa sejumlah barang belanjaan di punggungnya. tersentuh hatiku untuk menuntun si nenek. Ketika kutuntun, nenek tersebut meminta uang Rp 1000,- kepadaku untuk tambahan ongkos naik becak. Tanpa ragu langsung kuberi Rp 2000,-. Aku kembali menuntunnya sampai ke pangkalan becak motor. Setelah hampir dekat ke pangkalan becak motor, nenek tersebut berkata kalau ternyata duitnya masih kurang. langsung kuberi Rp 2000,- lagi. Alhamdulillah aku ada uang untuk diberikan ke nenek tersebut. Sampai di depan becak motor yang akan dia tumpangi, aku membantu meletakkan belanjaannya ke atas becak motor tersebut. “Matur nuwun yo, nduk!” ,ucap si nenek. “Nggih, sami-sami mbah.” jawabku sambil tersenyum. “Dek, ayo naik sekalian.” ucap Pak pengendara becak motor itu menawariku. “He-eh, nduk. Sekalian aja.” ucap si nenek juga menawariku.    Dan akhirnya aku ikut numpang sekalian. Karena sewaktu aku menuntun si nenek menuju pangkalan becak motor, ada bus jurusan Pasadena lewat (bus yang tadi kunanti). Si nenek turun di jembatan dekat kawasan. “Matur nuwun yo, nduk.” ucapnya sambil tersenyum. “Nggih, mbah.” jawabku. “Cah iki ter no tekan kono yo! Eh… tulung iki gendongno!” ucap si nenek menyuruh pak ojek (becak motor) untuk mengantarku, terus si nenek minta tolong supaya belanjaannya ditaruh di punggungnya. “Makasih ya, Pak!” ucapku setelah turun dari becak motor. “Ya!” jawab Pak Ojek.


III. PENUTUP
Simpulan
            Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa ada beberapa bentuk karangan yang dapat diambil sebagai rujukan dalam menulis sebuah karangan. Dari berbagai bentuk karangan yang ada, terdapat juga macam-macam, jenis-jenis dan ciri-ciri karangan.
            Dalam menulis karangan juga harus memperhatikan tema yang akan di pakai agar penulis karangan tidak keluar dari pembahasan.


Daftar Pustaka

Tugas 2 Softskill Bahasa Indonesia 2
Nama   : Vivian
NPM   : 11208268
Kelas   : 3ea10

PENALARAN Penalaran sebagi Cara Merumuskan Kesimpulan

PENALARAN

Penalaran sebagi Cara Merumuskan Kesimpulan



I. LATAR BELAKANG

Penalaran adalah suatu proses berpikir untuk menghubung-hubungkan data atau fakta-fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan. Supaya kesimpulan itu benar, cara kita menghubung-hubungkan data tidak boleh sembarangan. Kita harus melakukan secara cermat dengan berdasarkan pikiran yang logis. Penalaran yang salah akan menuntun kita pada kesimpuan atau pendapat yang salah.

Kesalahan membuat kesimpulan tidak hanya ditentukan oleh kekeliruan dalam cara bernalar, tetapi dapat pula oleh datanya yang tidak benar. Oleh karena itu, sebelum melakukan penalaran, perlu diketahui benar tidaknya data yang disimpulkan itu.

Penalaran ada dua macam :

1. Penalaran Induksi

2. Penalaran Deduksi



PERMASALAHAN

Benarkah penalaran sebagai cara merumuskan kesimpulan?





II. PEMBAHASAN

a. Pengertian penalaran

Penalaran yaitu menghubung-hubungkan data sehingga sampai pada kesimpulan atau pendapat yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Dengan kata lain penalaran merupakan proses berpikir yang sistematik (susunan ; aturan) untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan.

Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi–proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.



b. Proposisi dan Term

Apa yang dimaksud dengan term? Term adalah kata atau kelompok kata yang dapat dijadikan subjek dan predikat dalm sebuah kalimat proposisi.

Contoh :

Semua tebu manis.

Semua tebu adalah term.

Manis adalah term.



Term dan proposisi memiliki hubungan yang erat. Proposisi adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat diantara subjek dan predikat. Dengan kata lain, proposisi adalah pernyataan yang lengkap dalam bentuk subjek – predikat atau term-term yang membentuk kalimat.

Suatu proposisi mempunyai subjek dan predikat. Dengan demikian, preposisi pasti berbentuk kalimat, tetapi tidak semua kalimat dapat digolongkan kedalam proposisi. Hanya kalimat berita yang netral yang dapat disebut proposisi. Kalimat Tanya, kalimat perintah, kalimat harapan, dan kalimat inverse tidak dapat disebut proposisi. Kalimat-kalimat tersebut dapat dijadikan proposisi apabila diubah bentuknya menjadi kalimat berita yang netral.

Kalimat berikaut ini bukan proposisi :

1. Bangsa burungkah ayam?

2. Mudah-mudahan Indonesia menjadi Negara makmur.

3. Berdirilah kamu di pinggir pantai.



Kalimat itu dapat diubah menjadi proposisi sebagai berikut :

1. Ayam adalah burung.

2. Indonesia menjadi negara makmur

3. Kamu berdiri di pinggir pantai.



c. Metode dalam menalar

Shurter dan Pierce (dalam Shofiah, 2007 : 14) menjelaskan bahwa secara garis besar terdapat dua jenis penalaran yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif. Penalaran deduktif adalah cara menarik kesimpulan khusus dari hal-hal yang bersifat umum. Sedangkan penalaran induktif adalah cara menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat khusus.



1. Metode induktif

Menurut Suriasumantri (dalam Shofiah, 2007 :15) penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang berupa penarikan kesimpulan yang umum atau dasar pengetahuan tentang hal-hal yang khusus. Artinya,dari fakta-fakta yang ada dapat ditarik suatu kesimpulan.

Kesimpulan umum yang diperoleh melalui suatu penalaran induktif ini bukan merupakan bukti. Hal tersebut dikarenakan aturan umum yang diperoleh dari pemeriksaan beberapa contoh khusus yang benar, belum tentu berlaku untuk semua kasus.

Aspek dari penalaran induktif adalah analogi dan generalisasi. Menurut Jacob (dalam Shofiah, 2007 :15), hal ini berdasarkan bahwa penalaran induktif terbagi menjadi dua macam, yaitu generalisasi dan analogi.

• Analogi adalah proses penyimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta. Analogi dapat juga dikatakan sebagai proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkan kesamaannya, kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan.

• Generalisasi adalah penarikan kesimpulan umum dari data atau fakta-fakta yang diberikan atau yang ada. Hipotesa berasal dari bahasa Yunani: hypo= di bawah;thesis = pendirian, pendapat yang ditegakkan, kepastian. Artinya, hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan terarah. Dalam berfikir sehari-hari, orang menyebutnya anggapan, perkiraan, dugaan, dan sebagainya. Hipotesa juga berarti sebuah pernyataan atau proposisi yang mengatakan bahwa diantara sejumlah fakta ada hubungan tertentu.

* Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
* Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
* Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.

2. Metode deduktif

Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Contoh : Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

Bagian ini membutuhkan pengembangan



d. Konsep dan simbol dalam penalaran

Penalaran juga merupakan aktifitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.

Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.

Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.



e. Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran

Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.

* Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.

* Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.




III. PENUTUP

Simpulan

Dari penjelasan tersebut pernyataan-pernyataan yang dijadikan premis atau proposisi harus merupakan fakta.

Premis harus benar karena proposisi yang benar menghasilkan kesimpulan yang benar. Dan proposisi yang salah menghasilkan kesimpulan yang salah.

Penalaran sebagai cara merumuskan kesimpulan harus melalui latihan. Data atau fakta-fakta yang dihubungkan harus dapat dibuktikan kebenarannya, karena penalaran induksi maupun penalaran deduksi termasuk kedalam jenis karangan argumentasi.



Daftar Pustaka

® http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_perekonomian

® http://www.taqdire.web.id/2010/02/penalaran-induktif.html

® elearning.indosatschool.com/.../PENALARAN_SEBAGAI_CARA_MERUMUSKAN_KESIMPULAN.doc

® E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai. Cermat Berbahasa Indonesia.





Tugas 1 Softkill Bahasa Indonesia 2

Nama : Vivian

NPM : 11208268

Kelas : 3ea10